Saturday, February 22, 2014

Romansa Film Lone Survivor



Film terakhir yang kami tonton di bioskop adalah The Conjuring sekitar setengah tahun yang lalu, itupun saat puasa Ramadhan. Sejak Sar hamil besar hingga Khal lahir, kami tidak pernah nonton di bioskop. Tidak ada kesempatan. Kami tidak tega menitipkan Khal disaat kami bersenang-senang nonton di bioskop. Kami juga takut membawa Khal ikut menonton berhubung masih bayi dibawah umur. Kami takut telinganya yang mungil itu terkontaminasi suara bising dan berisik yang tak mampu diterimanya hingga pecah. Pertanyaan selama ini adalah: Berapa umur minimal bayi bisa menonton di bioskop? Itu adalah perkara yang berbeda dengan umur minimal bayi bisa naik pesawat. Ketakutan kami adalah masalah pendengaran bayi yang masih sangat rentan. 

Hingga tiba saatnya hari sabtu itu. Kami niatannya cuma jalan-jalan di mall. Tapi mba Ulan tiba-tiba mengajak nonton. Film yang ditaksirnya adalah Lone Survivor, film action. Padahal film yang kami taksir adalah Comic8. Berhubung ditraktir nonton, kami akhirnya ikut memilih Lone Survivor ditengah pergulatan batin antara mengajak Khal yang masih berumur 5 bulan atau tidak. Sisi materialistis menang, kami akhirnya mengajak Khal menonton. Jadilah film Lone Survivor adalah film bioskop pertama Khal.

Lone Survivor, film action yang berlatar perang Amerika-Afghanistan. Karena dibuat orang Amerika, maka pahlawannya adalah tentara Amerika. Cerita dimulai dari latihan fisik tentara khusus marinir Amerika yang sangat berat. Kemudian ada seseorang yang ditolong, bersimbah darah dari medan perang. Cerita kemudian mundur beberapa hari, seseorang inilah yang menjadi tokoh utama.

Beberapa tentara Amerika diutus untuk menghabisi seorang pimpinan Taliban. Konon bos Taliban ini sangat kejam dan telah membunuh banyak infanteri Amerika. Singkat cerita, tibalah kelompok tentara Amerika ini di sebuah desa terpencil Afghanistan yang menjadi tempat persembunyian Taliban. Mereka ditugaskan survei lokasi, mengintai dari kejauhan sambil menunggu perintah dari pusat komando. Sial, sekelompok gembala memergoki mereka. Mereka (tentara Amerika) mengalami kegalauan, opsi pertama adalah membunuh gembala tersebut yang notabene warga sipil yang secara etika tak boleh dibunuh, opsi kedua adalag mengikat mereka di hutan, tak peduli dimakan binatang buas atau ditemukan selamat oleh penduduk desa, dan opsi ketiga adalah melepaskan gembala tersebut sambil mereka mundur kembali, misi dijadwal ulang. Mereka memilih yang terakhir. Tapi dugaan mereka salah, seorang gembala ternyata mata-mata Taliban dan dengan segera melaporkan kejadian itu pada bos Taliban.

Singkat cerita, tentara Amerika ini akhirnya diketahui keberadaannya oleh pihak Taliban. Mereka akhirnya terkepung dan harus menghadapi kontak senjata. Film ini kemudian beradegan tembak-tembakan dan perang dalam belantara. Bagaimanapun hebatnya, lima orang tentara Amerika tak mampu menghadapi ratusan Taliban. Tak perlulah saya ceritakan bagaimana penggambaran heroiknya lima tentara Amerika ini menghadapi Taliban, yang jelas lebay, berapa kali ditembak tidak mati-mati. Hingga seorang penonton nyeletuk "9 nyawanya ini tentara, ditembak dan dibom tidak mati-mati". Beda jika anggota Taliban yang ditembak, sekali dor tewaslah mereka.

Akhirnya tentara Amerika bersisa satu, dia mati-matian mempertahankan hidup bersembunyi dalam hutan. Dalam suasana genting dan hampir tertangkap, tentara terakhir ini akhirnya dibantu penduduk desa yang merupakan keluarga gembala. Mereka berterima kasih kepada tentara yang tidak membunuh mereka. Balas jasa ceritanya. Di akhir cerita, tentara terakhir ini berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh tentara bantuan dari pusat komando. Cerita film ini diadaptasi dari kisah nyata. Di slide terakhir tertampil foto asli beberapa tentara tersebut, termasuk tentara terakhir yang selamat.

Dalam studio, kami awalnya khawatir Khal rewel, berteriak dan menangis karena ketakutan dan suara bising. Tapi Sar memeluknya erat hingga tertidur. Kadang Khal tiba-tiba terbangun jika suara tembak-tembakan, dan kami refleks menjejali mulutnya dengan dot susu yang nyaris kosong sambil menepuk-nepuk pahanya hingga kembali terlelap. Lewat satu jam, Khal akhirnya terjaga, kami khawatir Khal nangis sejadi-jadinya. Susu dalam dot pun sudah hampir habis dan kami tak membawa persediaan susu formula. Biasanya seberisik apapun Khal tetap tenang asal diberi susu. Resiko terbesar kami adalah menuntaskan film lebih awal. Lebih baik pulang daripada mengganggu seisi studio karena tangisan Khal. Benar saja, Khal mulai merengek, Sar akhirnya menggendong Khal sambil berdiri. Untung kami mengambil tempat duduk paling belakang sehingga tidak mengganggu yang lain. Beruntung, Khal tenang dalam gendongan Sar. Bahkan Khal seakan menikmati filmnya dengan menggoyang-goyangkan badannya jika adegan tembak-tembakan terjadi. Kami akhirnya berhasil menuntaskan film tanpa tangisan bayi. Pengalaman yang mendebarkan. Bagaimana dengan Anda? Sudah nonton Lone Survivor? Pernah ngajak bayi nonton di bioskop?

[Makassar, 8 Februari 2013]


Gambar: sketsa foto kami bertiga di lobi bioskop, dipotret anak berusia 4 tahun. Nda nyambung sama filmya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...