Monday, December 28, 2015

Ayo naik bus Trans Maminasata



Lagi suntuk? Naik bus yuk!

Kalau di Jakarta terkenal dengan bus Trans Jakarta, di Makassar ada BRT (Bus Rapid Transport) Trans Maminasata. Tak sebanyak rute Trans Jakarta memang, bus Trans Mamibasata ini baru melayani beberapa rute. Namun usaha pemerintah kota Makassar (dan atau Provinsi Sulawesi Selatan?) menghadirkan moda transportasi massal yang aman dan nyaman bagi warga Makassar dan sekitarnya patut diapresiasi. Yang penting sudah berusaha, perihal masyarakat mau memanfaatkannya atau tidak itu urusan kesekian.

Baru 4 koridor yang beroperasi namun cukuplah menjangkau beberapa sudut kota Makassar, plus kota sekitar Makassar (Maminasata = Makassar, Maros, Sungguminasa Gowa, dan Takalar) kecuali Takalar. Adapun rute dan tarif bus Trans Maminasata adalah:

Wednesday, December 23, 2015

Wisata keliling kota Makassar dengan angkot, mau?



 Lagi suntuk? Coba naik pete-pete

Setelah sekian lama, akhirnya saya naik pete-pete lagi. Praktis setelah lulus kuliah dan punya motor, interaksi dengan pete-pete semakin berkurang. Bahkan saya pun tak tahu lagi berapa tarif sekali naik pete-pete. Sebelum punya tunggangan motor, pete-pete jadi alat transportasi andalan. Buat ke sekolah, pasar, mall, atau sekedar cari angin. Setelah punya tunggangan motor, pete-pete jadi musuh bebuyutan. Kalau berada di jalan, sebisa mungkin menghindari makhluk ini. Perilaku ugal-ugalan dan seenaknya dari (sebagian kecil oknum) pengemudi pete-pete jadi penyebabnya.

Hanya pete-pete yang berani singgah di tengah jalan hanya untuk menunggu penumpang. Hanya pete-pete yang tidak memberi tanda sen kalau mau berbelok. Hanya pete-pete yang lampu remnya tak jelas, soak, dan hampir mati. Hanya pete-pete yang berani memepet kendaraan lain yang coba menghalanginya. Dan berbagai hal horor lainnya. Daripada ribet berurusan dengan pete-pete, mending saya hindari. Sangat kontras memang pandangan saya akan pete-pete beberapa tahun lalu, saat sedang sekolah dan membutuhkan alat transportasi yang praktis walaupun kurang nyaman. Dulu butuh, disayang, sekarang tak butuh, dibuang.

Kadang kalau logika saya sedang jalan, saya maklumkan saja. Sopir pete-pete kebanyakan tidak membawa mobilnya sendiri, melainkan disewa dari juragan pete-pete dan mesti menyetor biaya sewa setiap harinya. Mereka butuh hidup juga, dan menghidupi keluarganya. Masalah yang kemudian timbul adalah jika pete-pete membahayakan hidup pengguna jalan lainnya.

Kali ini saya tak mau mengadili apalagi mencibir perilaku sopir pete-pete yang horor itu. Saya pun kadang berada diluar batas kendali apabila berada di jalanan, emosi, ugal-ugalan. Saya hanya mau menceritakan kebahagiaan saya naik pete-pete pagi tadi. Bukan karena mendapatkan dompet jatuh di pete-pete, tapi karena bisa bersantai di pete-pete. Walaupun macet parah dan udara panas, saya tak perlu capek-cepek menarik gas motor atau menginjak kopling motor. Berbahagialah para penumpang pete-pete yang sopir pete-petenya tidak ugal-ugalan, mereka bisa menikmati suasana kemacetan di jalan dengan caranya masing-masing.

Sunday, December 20, 2015

Filosofi sepakbola gagal van Gaal

MU kalah (lagi)? Ambil lucunya, karena (mungkin) tak ada hikmahnya...
Kecuali tentang filosofi van Gaal yang (mungkin) gagal...

Malam ini MU kalah lagi, sakitnya karena kekalahan diderita oleh tim semenjana Norwich City, di kandang sendiri pula. Saya bisa bayangkan sakitnya fans United apalagu yang menonton langsung di Old Trafford, belum juga laga usai mereka berbondong-bondong keluar stadion, meninggalkan kursi penonton yang melompong.  Mungkin mereka sudah paham dan tahu betul, tak ada kejadian heboh lagi seperti final liga champions 99 saat MU membalikkan keadaan di menit-menit terakhir. Daripada tambah sakit, mending keluar.

Tak ada semangat di tim ini seperti era sebelumnya. Dulu, seluruh pemain yang berlaga tidak patah semangat memborbardir gawang lawan hingga peluit akhir berbunyi, apalagi dalam posisi ketinggalan, tidak ada cerita pemain leye-leye mengoper bola, apalagi salah umpan. Makanya banyak gol penting tercipta di masa injury time. Sekarang? Tidak semangat, kurang greget. Benar saja, tak ada "kejadian" penting lagi di masa injury time ini saat melawan NC. Supporter yang betah menunggu peluit akhir niscaya semakin meradang, pun kami fans yang hanya menonton di layar kaca.

Kalah dari Barcelona, atau Real Madrid, atau Bayern Munchen, atau AC Milan di kandangnya jauh lebih terhormat daripada kalah dari tim papan bawah di kandang sendiri.

Friday, December 11, 2015

Paket nelpon murah dan papa minta saham

Hidup tanpa pulsa, bagai taman tak berbunga

Dicecar wartawan soal kasus "papa minta saham" yang membelitnya, Setya Novanto malah minta pulsa pada wartawan. Pengakuannya, pulsanya habis, belum diisi, tadi lupa registrasi nelpon. Padahal dia mau nelpon bala bantuan, pengacaranya. Sayangnya tak ada wartawan yang mau membantunya, sekedar memberi beberapa pulsa untuk menelpon. Konon tak ada lagi yang mau registrasi nelpon karena mahal. Lagian, Setnov terkenal pelit, kerjanya hanya minta saham dan tak mau membaginya, pulsa pun lupa dia beli, pelit bukan?

Cerita diatas fiktif belaka, jangan dianggap seriuslah. Selain terkagum-kagum dengan karya master Sotoshop Agan Harahap, saya mau sedikit curhat soal pulsa yang kian hari bertambah mahal, fluktuasinya mengalahkan kenaikan harga sembako dan BBM bersubsidi. 

Thursday, December 10, 2015

Emas-emasan Bung Karno dan Mungkin Kita yang Tertipu



Seumur-umur saya baru pegang emas batangan, entah asli atau palsu...

Dengan sedikit ragu, Bang Ikhlas (BI, seorang teman, sebut saja namanya begitu) memberitahu kalau dia punya emas batangan. Mungkin awalnya BI ragu memberitahukan ke saya perihal tersebut, khawatir saya mencibir tak percaya. Mungkin juga BI khawatir rahasianya tersebut saya bocorkan ke orang-orang, dan kelak jadilah BI korban perampokan. Ah, saya kesampingkan dulu keraguan-keraguan tersebut. Intinya, BI punya emas batangan. BI memberitahu saya, mungkin berharap saya punya second opinion akan diapakan emas tersebut. Kata BI, emas tersebut diberikan oleh mendiang ayahnya. Konon emas tersebut diperoleh dengan cara memberi "mahar" dengan jumlah uang tertentu, sekitar satu jutaan per batangnya yang mana dulu jumlahnya tak bisa dibilang sedikit. Entah diperoleh dari orang lain atau diperoleh dengan cara "gaib". Saya penasaran dan minta dibawakan emas tersebut, sekedar dilirik-lirik, kalau bisa diuji keasliannya.

Selain diperoleh dengan memaharkan, pesan terakhir ayah BI tentang emas batangan tersebut semakin mengusik batin dan logika kami. Pesan terakhir tersbut adalah agar BI tidak membelanjakannya. Logikanya kalau tidak untuk dibelanjakan, lalu emas ini mau diapakan? BI mulai tak sanggup menjaga pesan terakhir sang ayah, dan untuk mengetahui emas ini bisa dibelanjakan atau tidak mesti lewat uji kemurnian emas.

Emas batangan yang dimaksud hadir keesokan harinya, setengah kilogram emas batangan bercetak khusus. Konon itu hanya "sampel", yang artinya masih banyak emas batangan serupa yang BI simpan di rumahnya. Saya takjub, nyaris tak percaya. Kalau memang benar itu emas murni maka hari itu adalah kali pertama saya memegang emas batangan. BI bilang dirumahnya masih banyak emas batangan, kalau disatukan saya tak akan sanggup mengangkatnya, saking banyaknya!

Tuesday, December 8, 2015

Aturan (Pem)batas(an) Kecepatan Kendaraan



 Karena anggapan BIAR CEPAT ASAL SELAMAT sudah mendarah daging
dan perlu diatur

Seberapa cepat kita melajukan kendaraan di jalan (raya)? Kebanyakan dari kita pasti tahu dari petunjuk yang terpampang di pengukur kecepatan, speedometer di tiap kendaraan. Mungkin kebanyakan kita tak mau tahu batas kecepatan kendaraan yang layak dan aman buat kita. Kebanyakan kita berpikir instan tanpa memperhatikan dan mengingat aspek keselamatan. Prinsip "biar lambat asal selamat" sudah dirasa kuno di era motor dan mobil matic sekarang ini, berganti prinsip "cepat dan selamat". 

Laman wikipedia menjelaskan, pembatasan kecepatan adalah suatu ketentuan untuk membatasi kecepatan lalu lintas kendaraan dalam rangka menurunkan angka kecelakaan lalu-lintas. Untuk membatasi kecepatan ini digunakan aturan yang sifatnya umum ataupun aturan yang sifatnya khusus untuk membatasi kecepatan yang lebih rendah karena berbagai alasan. Beberapa alasan pembatasan kecepatan adalah keramaian, di sekitar sekolah, banyaknya kegiatan di sekitar jalan, penghematan energi ataupun karena alasan geometrik jalan. Kurang lebih sepertiga korban kecelakaan yang meninggal karena pelanggaran kecepatan, sehingga pembatasan kecepatan merupakan alat yang ampuh untuk mengendalikan jumlah korban akibat kecelakaan lalu-lintas.

Monday, December 7, 2015

Pagar Makan Jalanan



Karena PAGAR MAKAN TANAMAN sudah terlalu mainstream

Di pemukiman padat penduduk sudah jamak ditemui rumah-rumah tak bertaman, alih-alih berpagar rapat, dan tinggi. Kebutuhan akan rasa aman dan nyaman adalah salah dua penyebabnya. Aman dari kejahatan yang mungkin tiba-tiba hadir dan nyaman dengan privasi tertutup. Maklum, orang kota sudah sedemikian parnonya dengan kriminalitas, dan sedemikian elitisnya dengan tetangga.

Lahan yang demikian sempit itu sebisanya disulap menjadi teras plus garasi. Masalahnya adalah teras plus garasi yang mungil itu kadang tak cukup untuk masuk mobil, mobil mini sekalipun. Solusi praktis nan cerdas adalah "memajukan" teras dengan "memakan" sebagian ruas jalan. Maka tak jarang ditemui di lorong-lorong perumahan pagar rumahnya menjorok ke depan, kebanyakan pagar lipat besi yang dibuat permanen. Celakanya lagi kalau si pemilik pagar sebenarnya tak punya mobil, iseng saja memajukan pagarnya hanya karena ikut-ikutan tetangganya. Namun lebih celaka lagi kalau si pemilik pagar punya mobil namun mobilnya tetap parkir dengan khusyuknya di pinggir jalan, bukan di garasi yang pagarnya sudah makan jalanan itu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...