Saturday, July 14, 2018

Upaya Pemberantasan Jentik Masyarakat Pesisir



Nyamuk Aedes (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) adalah spesies nyamuk vektor pembawa virus dengue yang dominan di Indonesia, penyebab demam dengue, baik yang berdarah (DBD – Demam Berdarah Dengue) maupun yang tidak berdarah (DD – Demam Dengue). DBD adalah salah satu penyakit yang ditakuti masyarakat karena masih sering terjadi dan menimbulkan kematian serta menular dengan cepat. Daerah endemis DBD adalah daerah yang setiap tahun dalam kurun waktu tiga tahun terakhir selalu ada kasus DBD. Kabupaten Maros adalah daerah endemis DBD.

Ada beberapa tahap hidup nyamuk, mulai dari telur, larva/jentik, pupa, dan nyamuk dewasa. Yang sering dilihat secara langsung dan kasat mata adalah jentik dan nyamuk. Kalau telur sangat kecil, sedangkan pupa waktu hidupnya cepat berkisar dua hari saja sehingga jarang dilihat dan ditemukan. Siklus hidup jentik agak lama berkisar lima sampai tujuh hari sedangkan siklus hidup nyamuk bisa sampai dua bulan. Dalam program pencegahan dan pengendalian DBD terkhusus pengendalian vektor, jentik dan nyamuk adalah dua hal yang sangat penting untuk dikendalikan. Karena tempat hidupnya, jentik yang hidup di air lebih mudah dikendalikan daripada nyamuk yang hidup di luar air.

Masyarakat pesisir sulit mendapatkan air bersih, mereka mengandalkan air hujan untuk kebutuhan MCK sehari-hari, sedangkan untuk konsumsi umumnya menggunakan air minum kemasan (galon) yang dijual bebas. Karena sulitnya air, masyarakat menyimpan persediaan air dalam wadah-wadah di dalam rumah. Wadah ini kebanyakan berupa drum bekas yang tertutup maupun tidak berpenutup. Wadah-wadah inilah yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk. Dusun Bua Mata adalah salah satu dusun di daerah pesisir Kabupaten Maros. Sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani tambak dan nelayan.

Beberapa pekan yang lalu terjadi peningkatan kasus DBD di Dusun Bua Mata, Desa Minasa Upa, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Setelah melaksanakan Penyelidikan Epidemiologi, dapat ditarik kesimpulan bahwa kasus DBD menyebar di sekitar rumah penderita (bukan kasus impor). Ditemukan perindukan nyamuk pada wadah penampungan air warga.

Setelah dilakukan wawancara, masyarakat tidak tahu bahaya jentik. Malah orang tua terdahulu menganggap jentik itu harus dipelihara karena sebagai penanda kalau air tersebut aman dari bahan kimia. Dasar pemikirannya sangat sederhana, jentik adalah makhluk hidup, jika jentik mati di air maka air tersebut pasti tidak aman dan mengandung bahan kimia berbahaya. Untuk jentik saja berbahaya dan mematikan apalah lagi bagi manusia. Masyarakat tidak mengetahui siklus hidup nyamuk, tidak paham bahwa nyamuk berasal dari jentik.

Dilakukan wawancara mendalam, masyarakat tahu tentang larvasida (abate) yang dikenal dengan ‘obat air’ namun tidak tahu bahwa ‘obat air’ tersebut untuk memberantas jentik. Mereka menganggap ‘obat air’ tersebut untuk diberikan di air saja tanpa manfaat khusus. Namun demikian masyarakat tidak senang dengan penggunaan larvasida, karena bau dan tidak gratis. Setelah diberikan informasi manfaat larvasida dan dapat diperoleh dengan gratis, masyarakat tetap meminta opsi lain untuk pemberantasan larva. Masyarakat lebih tertarik dengan penggunaan ikan cupang pemangsa jentik walaupun agak merepotkan karena harus dilakukan seminggu sekali menghindari bau air justru dari kotoran ikan.

Bagaimana dengan yang sudah paham bahaya jentik? Masyarakat kota yang lebih tahu tentang siklus hidup nyamuk lebih ke persoalan malas dalam penanggulangan nyamuk yang lebih efektif. Masyarakat kota lebih mengandalkan fogging dalam pemberantasan vektor, mereka tidak paham bahwa seberapa banyak kalipun difogging tidak akan mematikan jentik sebagai cikal-bakal nyamuk. Jangankan masyarakat umum, saya pun kadang abai dengan keberadaan jentik. Saat banyak nyamuk barulah saya sadar kalau ada perindukan nyamuk di dalam ataupun sekitar rumah. Barulah bertindak saat telah banyak nyamuk yang beterbangan, mungkin ada beberapa nyamuk Aedes yang bahkan sudah menggigit saya.

Mengetahui hal ini, petugas kesehatan terutama bagian promosi kesehatan harus melaksanakan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dengan lebih gencar di tengah masyarakat tentang pentingnya 3MPlus dalam pemberantasan sarang nyamuk. Minimal komunikasi risiko bahaya jentik dan informasi siklus hidup nyamuk, agar masyarakat tidak abai bahkan sengaja memelihara jentik. Apabila masyarakat tidak terlalu senang dengan penggunaan larvasida, disarankan untuk menggunakan ikan pemangsa jentik seperti ikan cupang sekali dalam sepekan untuk mematikan jentik ataupun mencegah nyamuk bertelur di wadah air.

Metode dan teknik pemberantasan jentik antar kelompok masyarakat berbeda, tergantung kebutuhan dan efektif-efisiennya metode tersebut dan diterimanya metode di tengah kelompok masyarakat. Untuk masyarakat pesisir harus terus didampingi dengan menggalakkan KIE secara informal dan pendekatan budaya. Masyarakat kota? Saya pun masih bingung karena mereka bebal seperti saya.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...